Para ulama berselisih paham mengenai hukum melubangi telinga perempuan untuk memasang anting anting tersebut.

  1. Pendapat Imam Ghozali

Menurut pendapat yang diutarakan Imam Ghozali dan di dukung juga oleh mayoritas ulama madhzab syafi’i berpendapat jika melubangi telinga perempuan untuk dipasang anting anting, maka hukumnya adalah haram dan pendapat ini juga menjadi pendapat sebagian ulama madhzab Hanbali.

Imam Ghozali pada Ihya memberi alasan jika perbuatan tersebut bisa menimbulkan luka yang terasa menyakitkan meski dalam Islam sendiri melukai anggota tubuh hanya dilakukan pada saat hajat seperti hukum khitan bagi perempuan dan juga bekam. Sedangkan untuk melubangi telinga untuk memasangkan anting anting untuk tujuan berhias atau tazayyun maka tidak dianggap sebagai sebuah hajat yang membolehkan melukai anggota tubuh walau sudah umum untuk dilakukan dan hukumnya menjadi haram serta wajib untuk dicegah. Selain itu, membayar orang untuk melakukannya juga tidak sah sekaligus orang yang mendapatkan uang saat menindik maka juga haram hukumnya.

  1. Pendapat Imam Romli

Menurut pendapat dari Imam Romli pada sebuah kitabnya menyatakan jika hal ini diperbolehkan dan juga di dukung dengan pendapat sebagian ulama madzhab Syafi’i. Mereka juga bahkan menyatakan jika pendapat ini menjadi yang mu’tamad atau dapat dijadikan pedoman hukum. Selain itu, pendapat ini juga merupakan pendapat dari para ulama Madhzab Hanafi serta menjadi pendapat yang shahih pada madhzab Hanbali.

Pendapat yang memperbolehkan untuk melubangi telinga wanita untuk memakai anting anting juga terdapat dalam hadits riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu yang berkata jika khutbah Nabi Muhammad dan juga nasehat beliau untuk para wanita pada hadits tersebut dikisahkan, “Maka mereka (para wanita) pun memberikan anting-anting dan kalungnya.” (Shahih Bukhari, 2/116).

Dalam hadits diatas dilihat jika memakai anting anting pada bagian telinga yang sudah dilubangi terlebih dahulu sudah dilakukan wanita dari dulu dan diketahui oleh Nabi. Apabila hal tersebut dilarang dalam agama, maka sudah pasti dilarang oleh Nabi Muhammad. Begitu juga sebaliknya jika hal tersebut tidak dilarang, maka Nabi Muhammad juga akan memberikan hukum diperbolehkan.

WhatsApp chat